Tuesday, December 30, 2008

Home » » [6] : Praktek

[6] : Praktek

Semua orang punya intuisi walau ada yang berkembang dengan baik, ada yang kurang. Intuisi akan berkembang manakala ia sudah mengenali dan mengembangkannya. Ia melakukan itu dengan menyimak saksama response2 ragawi terhadap informasi2, orang2 dan situasi2. Metode focus-praktek-kalibrasi adalah juklak penerapan teori ini yaitu MENGENALI & MENGEMBANGKAN intuisi.

2. Praktek
Dalam menentukan focus sebaiknya yang interaksinya intensip, jika bisa harian. BJ sudah fokus dan praktek harian. Seseorang yang memfokuskan cari ikan tetapi mancing hanya sebulan sekali tentu tidak efektip. Bagi mereka yang masih kesulitan menentukan fokus, ada baiknya ia memfokuskan pada apa yang dikerjakan secara intensip. Ini adalah proses menjalin kepercayaan dengan intuisinya. Nanti jika ia telah bisa menentukan fokus hidupnya, ia bisa mengubah fokusnya. Pada saat itu ia telah berlatih serasi dengan intuisinya. Seterusnya tidak sulit baginya untuk mengubah fokus.

Seringkali pribadi intuitif membuat kekeliruan dalam menangkap intuisi yang benar. Sebab intuisi dengan yang lainnya dan ia kebingungan menentukan yang intuisi yang mana. Kadang ia mengambil sebuah yang diyakininya sebagai intuisi dan ternyata keliru, ia lantas kecewa dan tak lagi mempercayai intuisinya. Akibatnya ia tak lagi menyimak intuisi, demikian berlangsung hari demi hari sehingga intuisi yang tak pernah digubris menjadi tak berkembang. Menangkap intuisi (bisa) sulit sekali sebab intuisi cuma sekilas. Pada saat yang bersamaan bermunculan yang lain2 (impian, kayalan, perasaan, dll) yang simpang siur dalam benak.



Oleh karenanya ia harus benar2 menyimak dengan extra saksama dan ini hanya bisa dicapai dengan PRAKTEK penuh konsentrasi. Praktek adalah proses pengulangan2 yang membuat kita makin mampu menangkap sasmita2 intuisi. Kesalahan2 baik dalam mengambil intuisi atau kesalahan yang dibuat oleh intuisi sendiri jangan sampai membuat patah semangat. Jika ia terus2an mengikuti intuisinya makin lama ia makin bisa menandai dan menangkapi dengan baik intuisi2 yang me-loncat2 dalam benak.

3. Kalibrasi
Mata kita kadang2 harus ‘dikalibrasi’ dokter dan saat usia > 40 tahun, banyak yang harus mengenakan kacamata. Bukan hanya itu, hidung pesekpun ikut2an ‘dikalibrasi’ agar mancung. Mesin2 juga dikalibrasi, istilahnya disetel atau di tune-up. SPBU2, alat2 ukur dll juga harus secara peresodik dikalibrasi oleh BMG. Otakpun juga dikalibrasi berkesinambungan Dari TK s/d PT kita selalu punya rapor; itulah hasil kalibrasi. Begitu juga halnya dengan intuisi. Ia harus terus2an dikalibrasi. Dipantau hasilnya, akurasinya, frequensi salahnya, dst. BJ mengkalibrasi harian dengan mencatat hasil2 intuisinya dikolom ‘intuisi’ dibandingkan dengan metode medis pro.
Kitapun harus begitu, senantiasi kalibrasi, kalibrasi, dan kalibrasi. Anda akan mengalami tahap2

1. Pertama melakukan pasti hasilnya ambyar tidak karu2an, salah2 melulu.
2. Tahap meragukan. Benarkah itu hasil intuisi ? Bukan kebetulan, ndhilalah, keberuntungan ? Atau di-cocok2in ?
3. Tahap tidak stabil. Dalam sebulan hasilnya bagus, lain kali memble. Pahamilah bahwa ini tahap2 normal. Otakkpun bisa lelah dan keliru.
4. Tahap percaya. Jika tahap ini bisa dilampaui, intuisi2 mengalir lebih lancar.

Selesai ? Belum ! Masih ada tahap implementasi. Ada sasmita2 intuisi yang jelas dan siap pakai, ada pula yang masih harus dieksekusi, minta persetujuan pihak lain, musyowaroh, dll. Misal, seorang polisi punya intuisi bahwa pembunuhnya Temu. Ia tidak bisa se-mena2 menangkap Temu. Ia harus mengumpulkan bukti2 (sidik jari, saksi2, motif, dll) secara logis. Banyak yang karena kesulitan menemukan bukti lantas meragukan intuisinya.
Berikut beberapa suplemen intuisi

Suplement Intuisi [6a] : MBTI
Semula saya kurang mengindahkan BJ karena tampak kurang meyakinkan. Pada akir 80-an saya membaca MBTI dan kaget ternyata saya termasuk golongan intuitive. Ha? .... jangan2 yang selama ini saya anggap aji pengawuran itu intuisi ? Segera saya bongkar kembali data2 lama. Tidak seperti BJ yang datanya banyak, data saya relatip sedikit; setahun paling2 dua-tiga losin tender. Data2nya lengkap dengan kolom2 harga pokok, harga penawaran (bid price) dan harga final dan dilengkapi dengan data aktual. Nyaris semua harga final saya harga awur2an, ada yang menang, ada yang kalah. Ada yang terlalu tinggi, ada yang terlalu rendah. Hasil evaluasi mengecewakan dan meragukan karena sulit sekali menarik kesimpulan.

Namun demikian, sesudahnya saya menyimak intuisi dengan lebih saksama dan hasilnya positip. Yang semula saya anggap harga awur2an ternyata lebih akurat. Saya makin pédé. Dulu setiap negosiasi harga akir selalu meresahkan dan membuat saya terjebak dalam keraguan. Mau pasang harga berapa ? Kini saya bisa dengan tenangnya .... bum ... harganya segini. Dan .... binggo ! .... menang. Demikian berulangkali sehingga ber-turut2 menang terus2an. Makin lama saya makin yakin dengan intuisi saya dan selama belasan tahun saya ‘meraja lela’. Mungkin juga harga2 yang saya buat sebenarnya harga awur2an tetapi saya meyakini itu sebagai intuisi dan membuat saya makin pédé, makin tegas, dan makin rileks. Saya makin mampu membaca situasi atau orang2 yang terkait dengan fokus saya saat itu.

Dengan catatan :
1. Kadangkala intuisi kliru tetapi saya lebih toleran dengan keterbatasannya.
2. Saya tidak terpeleset kemistisme, tetap tampil rasional sebagaimana layaknya Ingsinyir pro dan Eksekutip kaliber Internasional.
3. Sepanjang informasi2 & proses lengkap, saya lebih mengandalkan akal & pancaindra. Proyek Management adalah situasi dengan informasi lengkap. Jadwalnya jelas, spesifikasi teknik gamblang, batas2 kontrak, harga2, dll. Masih dilengkapi analisa proyek, neraca akuntansi, dokumen2 belanja, dll analisa2 kwantitatif.

The Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) adalah type2 psikologi yang dikembangkan Chatherine Briggs dan anaknya Isabel Myers berdasarkan teori CG Jung. Ada 4 sumbu yang menggolongkan type2 dalam 16 kwadran. Sumbu2 tsb :

1. Sumber energy
Dalam sumbu E___I, ada yang Extrovert ada yang Introvert. Extrovert mendapatkan enerji dengan berinteraksi dan Introvert dengan berkonsentrasi.

2. Cara mengindra
Dalam sumbu S___N, ada yang menggunakan Sensing atau panca indra. Ada yang menggunakan iNtuition atau indra ke-6.

3. Cara membuat keputusan
Dalam sumbu T___F, ada yang menggunakan Thinking atau akal dan ada yang menggunakan Feeling atau perasaan.

4. Gaya Hidup
Dalam sumbu J___P, ada yang bergaya hidup Judging, yaitu teratur, terstruktur, definite, terjadwal, ada pula yang Perceiving yaitu luwes, acak, impulsif, dan terbuka.

MBTI belum mendapatkan pengakuan ilmiah tetapi telah dipakai secara luas termasuk untuk rekruitment2. Saya termasuk [I]ntrovert, i[N]tuitive, [T]hinking, dan [J]udging. Disingkat menjadi INTJ. Type ini memiliki sifat2 sangat mempercayai intuisinya.
Menurut David Kiersey : http://lab.simerson.net/personal/psych/intj.shtml
“ The most important preference of an INTJ is intuition, but this is seldom seen. Rather, the function of thinking is used to deal with the world and with people “
Yang paling disukai INTJ adalah intuisi tetapi ini tidak kentara. Mereka bahkan lebih banyak menggunakan akal dalam berhubungan dengan dunia dan manusia.

http://www.insightsystem.com/intj.htm
“ INTJs place their trust in logical analysis and intuition to guide their thoughts and decisions. “
INTJ menempatkan analisa2 logika dan intuisi dengan penuh keyakinan yang menuntun mereka dalam berpikir dan membuat keputusan.

Kesimpulan :
Anda tidak harus jadi INTJ untuk mempercayai intuisi. Untuk mempercayai intuisi butuh proses dan waktu. Dengan segala kelemahannya, intuisi memiliki kelebihan2.

Suplement Intuisi [6b] : Contoh2

Salah satu kolega saya WN Belanda, orang Yahoodi. Saya hanya bertemu dengannya 5-10 menit, 2-3 kali dan sama sekali tidak tahu latar belakangnya. Suatu hari ada dorongan untuk menilpunnya. Setelah basa basi, tiba2 saya nyeletuk

“ Yahoo, saya mau ke Hongkong, mau titip apa ?”
“ Titip apaan ? “
“ Barang2 disana bagus2. Ada kamera, jam, dll. Biar saya belikan “
“ Ah, tidak usah repot repoooooot, ..... “
“ Atau buat bu Yahoo. Disana banyak bahan2 fashion bagus2 ..... “
“ Aaaah, nggak perlu laaaah .... “
“ Anu, anu, anu ...... “
“ Aaaah, ..... Sudahlah, kau pulang dengan selamat aku sudah senang “

Tiba2 terlintas lagi ....
“ Kalau saya berikan mentahnya saja, bagaimana ?”
“ Aaaaaaaaah, ......
“ Anu, anu, anu ...... “
“ Aaaaaaaaaaaaaah, .....
“ Anu, anu, anu ...... “
“ Atau, nanti sesudah pulang kusampaikan kepada anda, piye ?”
“ Ah, itu gampang. Kamu bisa datang kapan2. Tetapi tidak merepotkan, to ?”

Eureka, eureka, eureka ...... ! Saya tahu tanpa tahu bagaimana saya tahu bahwa bule itu doyan sajèn (sesaji). Kemungkinannya 1 : 10,000 sebab jarang sekali bule doyan sajèn. Itulah intuisi. Sesudahnya saya kemblegan (tertimbun) proyek dari si Yahoo. Besar2. Rasanya gandhem marem.

Contoh lagi.
Ketika saya lengser, ada persoalan pajak yang menyeret saya sebagai mantan direkturnya. Perusahaan terkena pajak ganda yang bukan main besarnya. Si Jerman berusaha mengatasi tetapi solusinya mengakibatkan saya menjadi tumbal. Tentu saja saya menolak, karena itu bukan kelalaian saya. Demikian persoalan ini ber-larut2 sampai lebih dari 3 tahun, sampai2 Jerman merekrut biro pajak Eropa sekaliber Arthur Andersen. Selama > 3 tahun blekuthak blekuthuk persoalan ini tak kunjung selesai. Selama itu saya praktis tidak bisa berbuat apapun karena bahkan yang ahli2 keuangan bergelar doktor dari perusahaan beromzet 10 trilliun tidak bisa, apalah saya ini.

Akirnya si Jerman menyerah dan siap2 untuk mengalami kerugian besar karena kelalaian mereka sendiri kena pajak berganda. Sehari sebelum pelaksanaan, ketika saya sedang menyisiri anjing tiba2 .... plasss ... ada solusi melintas dibenak saya. Solusi tanpa pelanggaran pajak dan menguntungkan si Jerman. Eureka, ... eureka, .... eureka, .... Segera saya telpon si Jerman dan binggo ! ..... si Jerman dengan gembira menyetujui. Beberapa detik kemudian saya menyebut angka, entah dari mana datangnya : Euro sekian ratus ribu. Si Jerman menjawab hanya dengan satu kata : Yes ! Dalam semalam satu pencolotan intuisi saya bernilai : belasan ratus juta rupiah. Jumlah yang tak bakalan dicapai oleh kawan2 saya setelah bekerja sampai pangsiun. Kalaupun ada, jumlahnya hanya doremi.
Semalam belasan ratus juta ? Bukan ! Jumlah gandhem marem itu saya peroleh setelah sekian tahun meyakini intuisi, mengkalibrasi, memahami perilakunya, toleran jika intuisi keliru, dlsb. Itu adalah buah yang saya panen setelah bertahun.
Saya tak menolak bahwa itu bisa jadi hanyalah sebuah kebetulan. Bisa jadi itu adalah keberuntungan. Tetapi, ingat rumus keberuntungan?
Luck = preparation meet opportunity.
Salah satu bentuk ‘pereparation’ adalah pengembangan intuisi.

Kesimpulan
Kita sama sekali tidak menjanjikan sukses dalam semalam. Terjalinnya kepercayaan dengan intuisi butuh waktu yang (bisa) panjang tergantung yang nglakoni. Paitnya, bisa juga ini berakir dengan ke-sia2an karena entah sulit mempercayai intuisi, atau intuisi tak tajam, atau sulit mengimplementasikan intuisi. Batu sandungan kegagalan pada implementasi sering terjadi. Banyak yang menyerah, kurang ulet, kurang tangguh.

No comments:

Post a Comment