Tuesday, December 30, 2008

Home » » [7] : Aplikasi Intuisi

[7] : Aplikasi Intuisi

Kegagalan dalam implementasi sering terjadi. Misal seseorang punya intuisi bahwa tempat itu strategis buat toko bahan bangunan. Sayang, orang lain keburu mengontrak tempat itu. Atau, ia tepat dengan intuisinya sehingga mendapatkan order tetapi ketika order dilaksanakan, jalannya ambur adul. Mana barangnya telat, keliru, kurang, rusak, dll, sehingga laba yang diharap tak diperoleh mbalah rugi. Lagi2, yang disalahkan intuisi.
Dalam kasus saya, implementasi mendominasi aktivitas saya. Barangkali 80% aktivitas saya habis untuk manajemen proyek yang selalu ‘heboh’. Justru kekuatan saya bertumpu pada ‘eksekusi’. Dalam eksekusi dimana data2 & informasi melimpah saya lebih percaya data2 itu. Kalaupun terpaksa ‘awur2an’ atau ‘intuitif’, jumlahnya tak seberapa. Saya fokus hanya menggunakan intuisi untuk membaca situasi tender, ketika data2 & informasi benar2 tidak lengkap. Jika sudah berhadapan dengan ketidak jelasan, siapapun tak akan ada pilihan lain selain ‘awur2an’ yang belakangan saya yakini sebagai intuisi.
Mendayagunakan Intuisi (bisa) panjang jalannya. Sudah kesulitan menentukan fokus, dihadang kesulitan membuktikan atau implementasi masih dihadang lagi dengan paradox intuisi. Paradox intuisi adalah ketika apa yang kita tangkap dari intuisi tidak didukung kenyataan yang ada. Ini membutuhkan keyakinan yang tinggi.



Aplikasi Intuisi
Intuisi bisa diterapkan dimana saja. Termasuk intuisi ibu-anaknya. Jika intuisi ibu tajam, anaknya yang berada dilain kota sakit, si ibu bisa tahu. Bahkan anaknya resahpun terdeteksi ibunya. Menurut sebuah survay, wanita lebih tajam intuisinya dibanding dengan pria terutama menyangkut keadaan orang2 yang dikasihinya.

Intusi banyak digunakan dalam bisnis karena pelaku2 bisnis senantiasa berada dalam ketidak pastian dan mendorong mereka ‘awur2an’. Mereka tidak sadar bahwa yang mereka anggap awur2an itu namanya intuisi. Yang juga padat intuisi adalah dunia ilmu dan sain. Penemuan2 bersal dari intuisi. Mereka yang berada pada dunia ilmu sebaiknya menyimak intuisi dengan lebih saksama. Intuisi bisa mendorong karir mereka.
Yang juga banyak menggunakan intuisi termasuk organisasi kreatip semacam biro iklan. Dunia seni semacam arkitek, system designer / programmer, fashion, dll. Orang2 itu sering kebingungan mengapa tahu2 mak jedul ada gagasan brilian. Ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan mereka tentang intuisi. Atau, karena intuisi dicemari muatan mistis menimbulkan rasa antipati.
Intuisi juga hinggap dikalangan profesional. Seorang akuntan yang tajam intuisinya bisa mendeteksi bahwa neraca keuangan ngapusi. Opsir bea cukai yang tajam intuisinya tahu dengan cepat orang2 yang menyelundupkan sesuatu. Pilot yang tajam intuisinya tahu jika ada yang tak beres dengan pesawat terbangnya. Mekanik2 banyak yang hanya dengan mendengar suara mesin langsung tahu apa yang rusak.

Intuisi masih merupakan hal yang misterius. Sigmund Freud bilang bahwa kita ini bak gunung es. Hanya 1/8 berada dalam alam kesadaran yang 7/8 berada di alam-bawah-sadar (abadar). Secara misterius abadar menyerap data2, mengolahnya dan plass muncul ke alam bawah sadar.
Inilah basis teori prof. George W. Ladd dalam menurunkan petunjuk2 praktis tentang bagaimana mendayagunakan, mengaktifkan, dan menandai saat2 intuisi meloncat loncat. Artikel Metode ini masih under construction.

No comments:

Post a Comment