Tuesday, December 30, 2008
[7] : Aplikasi Intuisi
Dalam kasus saya, implementasi mendominasi aktivitas saya. Barangkali 80% aktivitas saya habis untuk manajemen proyek yang selalu ‘heboh’. Justru kekuatan saya bertumpu pada ‘eksekusi’. Dalam eksekusi dimana data2 & informasi melimpah saya lebih percaya data2 itu. Kalaupun terpaksa ‘awur2an’ atau ‘intuitif’, jumlahnya tak seberapa. Saya fokus hanya menggunakan intuisi untuk membaca situasi tender, ketika data2 & informasi benar2 tidak lengkap. Jika sudah berhadapan dengan ketidak jelasan, siapapun tak akan ada pilihan lain selain ‘awur2an’ yang belakangan saya yakini sebagai intuisi.
Mendayagunakan Intuisi (bisa) panjang jalannya. Sudah kesulitan menentukan fokus, dihadang kesulitan membuktikan atau implementasi masih dihadang lagi dengan paradox intuisi. Paradox intuisi adalah ketika apa yang kita tangkap dari intuisi tidak didukung kenyataan yang ada. Ini membutuhkan keyakinan yang tinggi.
[6] : Praktek
2. Praktek
Dalam menentukan focus sebaiknya yang interaksinya intensip, jika bisa harian. BJ sudah fokus dan praktek harian. Seseorang yang memfokuskan cari ikan tetapi mancing hanya sebulan sekali tentu tidak efektip. Bagi mereka yang masih kesulitan menentukan fokus, ada baiknya ia memfokuskan pada apa yang dikerjakan secara intensip. Ini adalah proses menjalin kepercayaan dengan intuisinya. Nanti jika ia telah bisa menentukan fokus hidupnya, ia bisa mengubah fokusnya. Pada saat itu ia telah berlatih serasi dengan intuisinya. Seterusnya tidak sulit baginya untuk mengubah fokus.
Seringkali pribadi intuitif membuat kekeliruan dalam menangkap intuisi yang benar. Sebab intuisi dengan yang lainnya dan ia kebingungan menentukan yang intuisi yang mana. Kadang ia mengambil sebuah yang diyakininya sebagai intuisi dan ternyata keliru, ia lantas kecewa dan tak lagi mempercayai intuisinya. Akibatnya ia tak lagi menyimak intuisi, demikian berlangsung hari demi hari sehingga intuisi yang tak pernah digubris menjadi tak berkembang. Menangkap intuisi (bisa) sulit sekali sebab intuisi cuma sekilas. Pada saat yang bersamaan bermunculan yang lain2 (impian, kayalan, perasaan, dll) yang simpang siur dalam benak.
[5] : Kalibrasi
Penting untuk memahami bahwa kita harus mengkomunikasikan pencolotan intuisi kepada pihak lain. Kita tidak cukup menyatakan “ menurut intuisi saya, .... “ Kita harus menyatakan dengan bahasa umum yaitu analisa logika. Misal pada waktu krismon ada pencolotan ‘expor !’. Kita harus menjelaskan dengan argumentasi2 logis. Misal bung IBK mendapat intuisi bahwa harga2 saham perbankan bakal naik ia harus melengkapi dengan data2 & fakta2. Menurut Hawkin “to justify it by filling in the intermediate steps.”. Rumus Henry Poincaré hetidaknya dipakai : by intuition we discover, by logic we prove’. Jika tidak, anda bakal jadi bahan tertawaan. Apalagi kalau intuisinya keliru ! Kalau apes ini melukai harga diri kita. Lebih bijak lagi, anda tak sepatah katapun membicarakan intuisi.
Misteri Intuisi
Hingga sekarang tak jelas apakah intuisi itu semacam reflex, artinya tiap orang sama ataukah mirip akal dimana ada orang yang pandai ada pula yang bodoh. Tidak jelas apakah intuisi itu mudah dikembangkan bagi semua orang ataukah hanya orang2 tertentu yang secara ‘kodrat’ (genetik ?) mudah mengembangkan intuisi. Pertimbangan moderat, ada orang2 yang cepat dalam mengembangkan intuisi dan ada yang butuh waktu lebih lama. Ketekunan bisa menutupi kekurangan ini. Saya kembalikan masalah ini kepada ybs.
[4] : Menyikapi Intuisi
1. Intuisi harus dibuktikan secara logis.
Yang terjadi adalah banyaknya artikel tentang intuisi yang sifatnya mistis dan mbèl gèdès. Ada yang menyarankan yoga, bertapa, dll, yang berbau klenik yang tak jelas juntrungnya. Akibatnya citra intuisi jadi jelek. Banyak yang tidak mempercayai sehingga mereka antipati, apriori, dan skeptis terhadap itu. Akibatnya intuisi kurang diindahkan. Pengabaian intuisi menyebabkan intuisi tidak berkembang, jadi kerdil atau tumpul.
Teoretis semua orang memiliki intuisi. Contoh yang jelas adalah reflex. Jika kita ketemu macan misalnya, secara naluriah kita akan lari. Bukan otak yang memerintahkan, intuisi. Jika kita kesetrum, pasti bereaksi. Intuisi2 non fisiologis tidak sejelas itu. Tetapi karena tidak digubris, intuisi bekerja tanpa disadari ybs, atau jadi bonsai.
2. Memilah intuisi
Menandai itu intuisi, awur2an, harapan, prakeyakinan, kayalan, mimpi, emosi, berjuta rasa, wishfull thingking, dll, tidak selalu mudah. Berbagai hal melintas kebenak kita dan jika tak cermat kita bisa keliru mengikuti yang bukan intuisi.
3. Intuisi bisa keliru.
Seperti akal dan pancaindra yang bisa keliru. Kadang kita masuk kekomplex perumahan dan ter-sesat2 tidak bisa keluar atau muter2 disitu terus. Ini menunjukkan bahwa indra dan akal kita bisa keliru. Kadang kita menegur seorang kawan ternyata keliru, itu orang lain. Tanpa kalkulator hitung 23846 x 123 : 34789 + 6534 dalam 30 detik. Pasti banyak yang keliru. Di kuis2 banyak pertanyaan sederhana2 tak terjawab bagi mereka yang bahkan tergolong pandai2. Jika kita bisa toleran bahwa akal dan pancaindra sering keliru, mustinya kita juga bisa berlapang hati menerima keterbatasan intuisi. Karena beberapa kali keliru, beberapa orang menepis intuisinya sehingga intuisinya tak pernah berkembang dengan sehat.
Seseorang ikut kursus mbèl gèdès tentang intuisi dan yaqin bahwa intuisinya benar. Ia sangat ingin jadi playboyo. Suatu hari ia ketemu seorang cewek dan mak pencolot orang itu tiba2 yaqin bahwa cewek ini bisa dikeloni. Tanpa tedeng aling2 ia to the point dengan yaqinnya : “kamu aku keloni mau ngga ?”. Plak ! Pria itu ditapuki (ditampar) mukanya. Begitulah, intuisi bisa MEMBAHAYAKAN kita karena sifatnya yang bisa keliru.
Karena terlalu yakin pada intuisi, kita mempertaruhkan se-gala2nya dan ini bisa menyeret kita sekeluarga dalam petaka.
Sebuah penelitian memperagakan beberapa responden melakukan tebakan hurup2 yang dipegang penguji dibalik tembok. Demikian dilakukan ber-ulang2 dan hasilnya dievaluasi. Ternyata hasilnya mengecewakan. Nyaris semua responden hanya untung2an dan kebanyakan keliru. Sangat sedikit yang scorenya tinggi, saya lupa angkanya mungkin kurang dari 1%. Yang sedikit ini diuji terus dan hasilnya tidak stabil. Dalam satu bulan misalnya score 40% benar, lain hari 50%, bisa 90%, tetapi bisa payah hanya 10%. Hingga hari ini intuisi masih merupakan misteri bagi ilmu pengetahuan.
3] : Pola-pola Misterius
Deret : 103, 4, 99, 114, 6, 108, 125, 8, 117, 136, 9, 127, 147, 12, 135, x, y, z
Gemblong tiba2 tahu tanpa tahu bagaimana ia memperoleh pengetahuan bahwa x, y, z = 158, 14, 144
Menurut Poincaré (matematikus), Gemblong ‘menemukan’ dan sekarang ia harus membuktikan dengan logika bahwa temuannya benar. Kita simak kembali deret itu
Langkah I
Deret : [103], 4, 99, [114], 6, 108, [125], 8, 117, [136], 9, 127, [147], 12, 135, x, y, z
Kita pisahkan deret yang bertanda [] : 103, 114, 125, 136, 147
Jika deret ini kita tandai, hasilnya 1(0){3}, 1(1){4}, 1(2){6}, 1(4){7}
Yang tanpa tanda kurung : 1, 1, 1, 1, ….
Yang bertanda () : 0, 1, 2, 3, 4, ……
Yang bertanda {} : 3, 4, 5, 6, 7, …
Jika demikian x = 1(5){8} atau 158. Binggo !
Langkah II
Deret : [103], 4, 99, [114], 6, 108, [125], 8, 117, [136], 9, 127, [147], 12, 135, …
Bisa ditulis [1+0+3], 4, 99, [1+1+4], 6, …. dst. Ternyata angka2 dibelakang [] adalah jumlah angka2 didepannya. Jika x = 158, maka y = 1+5+8 = 14. Binggo lagi !
[2] : Lompatan Intuisi
Jika kita tenggarai menjadi : 11, [11], 13, [13], 15, [17], 17, [19], 19, [23], 21, [29], 23, [31], 25
Angka2 tanpa kurung adalah deret : 11, 13, 15, 17, 19, 21, 23, 25, …. Kita bisa teruskan.
Yang dalam kurung : 11, 13, 17, 19, 23, 29, 31, …. Kelihatannya me-loncat2. Bukan, ini bilangan prima, bilangan yang hanya habis dibagi dirinya sendiri. Angka berikutnya bisa kita teruskan 37, 41, dst. Deret ini sudah bukan linear lagi tetapi masih sequensial.
Deret berikut makin rumit : 103, 4, 99, 114, 6, 108, 125, 8, 117, 136, 9, 127, 147, 12, 135, …. Walau deret ini bukan lagi linear, bukan pula sekuensial, deret ini masih beraturan. Gemblong sampai ber-hari2 gembrobyos mencoba menyelesaikan deret ini tanpa hasil. Ketika dirundung putus asa tiba2 …… bum ! Muncul angka 158, 14, 144 dibenaknya. Seterusnya Gemblong bisa membuktikan dengan logika bahwa ‘temuannya’ benar.
Ada pula deret yang benar2 meloncat : d, f, h, …. tau2 …. bum …. m. Kok mencolot ?
Suatu hari Newton duduk2 dibawah pohon dan kejatuhan buah Apel dan ….. bum …. Lahirlah hukum gravitasi Newton. Ketika Archimedes sedang berendam dibak mandi tiba2 …. Eureka, eureka, eureka …… sambil bertelanjang bulat ia lari2 dan melahirkan hukum Archimedes. Apa yang bum, bum, bum tadi ? Namanya loncatan intuisi atau intuition leap. Simaklah opini2 para ilmuhwan tersohor :
I did not arrive at my understanding of the fundamental laws of the universe through my rational mind. The intellect has little to do on the road to discovery. There comes a leap in consciousness, call it intuition or what you will, and the solution comes to you. Albert Einstein
Aku tidak sampai pada pemahaman tentang hukum2 fundamental tentang jagat raya lewat penalaran, kecendekiaan tak banyak artinya dalam perjalanan menuju penemuan. Tiba2 ada lompatan kealam kesadaran, katakanlah itu intuisi atau terserah kau mau sebut apa itu. Dan solusi datang padamu. Albert Einstein
1. Aji pengawuran
Kalau mau mudah, tinggal pasang mark-up tetap tetapi itu membuat kita mudah ditebak pesaing. Repotnya, kita misalnya memberikan harga nego final 120, saingan menang karena harganya 119. Padahal, kita dengan harga 110pun sudah mau. Lain waktu kita bantingan dengan harga 109, ternyata pesaing kita yang paling rendah harganya 140. Andai tahu, kita pasang 139pun sudah menang. Masalah tambah ruwet karena ada pelanggan yang tak begitu peka dengan harga. Bantingan tidak ada mangpaatnya. Yang membuat sulit, kita tidak punya informasi berapa harga pesaing, berapa anggaran pelanggan, dll. Saya selalu terjebak dalam ketidak pastian. Mau pasang harga final berapa? Dari rentang 100-150, bisa 109, 123, 143, dst ? Berapa ? Tidak ada jalan lain kecuali menerapkan aji pengawuran.
Saya tidak sendirian. Andai yang lain dll, pada posisi saya, merekapun akan melakukan itu. Kira2 ! Artinya, bukan sifat saya untuk awur2an. Saya berada dalam situasi ketidak pastian. Dalam kebimbangan, gójag gajeg, dan dilanda keraguan karena serba salah. Takut terlalu tinggi atau terlalu rendah. Padahal ini saat menentukan. Dalam keresahan itu, tiba2 ….. bum ….. entah dari mana asalnya tiba2 saya mendapatkan suatu angka dan saya kunci negosiasi dengan angka itu.
Biar Tua Tetap Belajar
"Iya lah, daripada nganggur, belajar sesuatu kan jauh lebih baik. Mau les apa?" tanya saya.
Setelah mengumpulkan beberapa informasi, Vicky memutuskan ikut les komputer di bilangan Grogol.
Hari pertama sepulang les, dengan gembira dia bercerita, "Ma, di kelasku ada temen les yang berumur 72 tahun. Wau, hebat sekali ya Ma. Sudah umur segitu masih mau belajar. Orangnya lucu lagi, sibuk nanya dan setelah berkali-kali nanya, si bapak pun ber-sorry-sorry ria sama kita-kita, sambil menertawakan kelambanan dan kebodohannya make komputer......"
Setiap pulang les, ada saja yang diceritakan Vicky tentang si bapak. Suatu ketika, si bapak membawa kamera di kelas untuk memotret teman-teman sekelas. Saat pertemuan berikutnya, Vicky pulang sambil membawa gelas mug bergambar foto dirinya pemberian si bapak. Kali lain, ada tas dan aksesori bergambar kunci G dibawa pulang, juga pemberian si bapak. Ternyata, si bapak menyukai bermain piano, sama dengan Vicky. Di kelas pun, Vicky tiap kali membantu si bapak dalam belajar. Sungguh pertemanan yang tidak biasa, tetapi sangat indah, antara mereka hingga akhir masa kursus.
Di kisah yang berbeda, saya pernah dimintai tolong oleh teman, sepasang suami istri. Walaupun kehidupan mereka tergolong sederhana, mereka adalah orangtua yang baik. Mereka setia menyisihkan uang untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. "Bu, tolong dong, bantu kami nasihati si bungsu, anak laki-laki kami satu-satunya, agar mau segera menyelesaikan kuliah. Sudah semester akhir. Kan sayang ya, tinggal selangkah lagi. Ada saja alasannya untuk tidak pergi ke kampus. Kami sudah putus asa. Masak skripsi saja lebih dari satu tahun nggak kelar-kelar. Ibu kan orang yang dihormati dia, pasti dia mau mendengarkan kata-kata Ibu. Tolong ya Bu," kata si ibu dengan wajah menyiratkan berjuta harapan. Berharap agar saya bisa menjadi penyambung lidah, berharap si anak segera menyelesaikan kuliahnya, dan entah apa lagi harapan yang masih tersisa.....
Netter yang berbahagia,
Belajar memang tidak memandang batas usia. Nyatanya yang berumur pun tetap sibuk menambah ilmu. Kata si pelajar berumur itu, "Setelah semua pekerjaan tidak lagi mengikat bapak, sekaranglah saatnya bapak punya semua waktu untuk belajar dan mengerjakan banyak hal yang bapak sukai. Sungguh nikmat sekali. Kalian anak muda, mumpung masih punya stamina otak yang cukup, fisik yang memadai, jangan pernah disia-siakan ya. Bapak yang sudah senja saja menyayangkan sisa waktu yang masih tersisa untuk belajar semua hal yang masih bisa dipelajari," nasihatnya.
Sama seperti suami tercinta saya, Andrie Wongso, yang tidak pernah kehilangan semangatnya untuk belajar. Jika saya menempatkan diri pada posisi sebagai orang lain, rasanya akan muncul pertanyaan, sampai kapan Andrie Wongso akan capai belajar? Sebab, hingga sekarang, tak pernah sekali pun saya menyaksikan ia berhenti belajar. Ia tidak pernah menyerah pada batasan keadaan, seburuk apapun, untuk terus mengasah diri, hingga saat ini. Tak heran, jika ia kemudian mempunyai filosofi "Succes is My Right". Kesuksesan yang diraihnya memag berkat perjuangan tanpa henti dari proses belajar yang pantang surut. Salut.
Bagaimana dengan kita?
Lenny Wongso
Salam sukses luar biasa!
Berani Mengangkat, Berani Meletakkan
Saya sudah jelaskan bahwa ibu bekerja untuk mencari uang agar bisa sekolah yang baik, punya rumah yang baik, bisa jalan-jalan. Anak saya malah membantah bahwa Dia seperti tidak memiliki Ibu”. Berdasarkan cerita di atas, kita hanya melihat sekilas saja, tetapi jika diambil jangka panjang, ada beberapa kemungkinan yang terjadi, bisa menjadi baik bisa pula menjadi buruk. Saya mengambil sisi yang buruk antara lain si Anak akan mengalami depresi yang mendalam, kemudian bisa pula mengambil cara / jalan untuk mencari perhatian, misalnya dengan manja dengan orang lain, atau malah secara ekstrim yaitu narkoba, bahkan sampai bunuh diri.
Keluhan Ibu di atas, adalah ilustrasi bahwa Ibu sudah mengambil keputusan untuk bekerja, si Ibu tentu tahu resikonya yaitu perhatian ke anak akan berkurang. Ibu mungkin hanya membutuhkan waktu sebentar saja. Ibu harus menemani anak bermain, bukan membawa pekerjaan ke dalam rumah, ataupun kerja sampai larut malam. Bisa saja dengan cara Ibu ini mengambil cuti selama beberapa hari untuk menemani si anak. Ini memang keputusan yang sulit, apalagi jika Ibu itu sudah mempunyai jabatan yang cukup tinggi di perusahaan. Tetapi keputusan ada di tangan si Ibu. Permasalahan ini juga terjadi di nilai mahasiswa.
Seorang mahasiswa harus belajar. Sering kali mahasiswa mengambil keputusan yaitu belajar pada 1 minggu sebelum ujian berlangsung. Ini masih wajar, tetapi jika mahasiswa sudah tidak mau masuk kuliah, tidak ikut ujian, maka mahasiswa tsb tidak akan lulus matakuliah tersebut, sulit mencari pekerjaan karena ijasah banyak angka merah, menjadi pengangguran. Kemudian mahasiswa tersebut menyalahkan diri sendiri, dan berakibat fatal ke mahasiswa yang bersangkutan .
Mahasiswa sudah berani mengambil resiko maka nilai akan ada di pundak dosen. Jika nilai jelek, sebenarnya ini sudah ada teguran kepada kita, bahwa ini ada resiko jika kita tidak perbaiki. Apalagi sampai mahasiswa sudah tidak kuliah, maka dia harus menerima resiko yaitu tidak lulus dan tidak melihat siapa yang bersalah. Permasalahan lain yaitu penyakit. Pekerja pun sering kali bekerja dengan sangat giat. Sehingga menyita waktu untuk berolah raga, makan menjadi tidak beraturan.
Sering kali, Tuhan sudah mengingatkan kita dengan diberikan sakit yang ringan. Tetapi seorang pekerja sering kali mengabaikan hal ini, menyebabkan penyakit datang mulai dari flu, sakit panas, batuk dll. Pekerja yang mengalami hal ini haruslah sadar, untuk beristirahat sebentar. Jika tidak mau istirahat, maka akibatnya akan menjadi fatal, tubuh menjadi ada penyakit yang lebih berat, antara lain : stroke, darah tinggi dll.
Sebenarnya masalah di atas, sudah ada nasehat dari Tuhan, bahwa kita melakukan kesalahan. Dan kita harus pandai membaca kata hati atau nasehat dari Tuhan, bahwa teguran dan nasehat itu sudah diberikan. Apakah kita mau menjawab atau tidak, itu terserah kita. Kita harus menjawab dan menjalankan perintah ini. Cuma kita kadang tidak mau menjawab dan menjalankannya.
Jadi jika mengalami kondisi di atas atau yang sejenisnya, maka kita harus menjawabnya, sebaiknya berpikir bahwa Teguran sudah diberikan, maka kita harus memperbaikinya. Teguran itu jangan dibiarkan saja, harus ada tindak lanjutnya. Dan kita jangan menyalahkan orang lain, atau kantor, atau keluarga atau apapun, semua keputusan ada di tangan kita. Jadi kalau kita Berani mengangkat maka harus berani meletakkan.
Kita sering kali hanya berani mengangkat tetapi tidak berani meletakkan. Jika kita berani mengambil suatu keputusan, maka kita juga harus berani meletakkan keputusan yang sudah kita ambil.
Oleh :Agus Putranto, S.Kom, MT, MScaputra@binus.edu eXcellent Centre in E-Learning Bina Nusantara
Fairus Dan Kucing
Ketika istrinya sedang mandi, ia pamit pergi keluar sebentar dan dibawanya si kucing. Setelah Fairus bermobil sekitar 10 km dari rumah, ia pun membuang kucing tersebut. Anehnya ketika ia sampai di rumah, si kucing sudah ada di sana. Fairus heran bercampur berang.
Sore harinya ia pergi lagi. Kali ini si kucing dibuangnya lebih jauh lagi. Namun tetap saja, sesampainya di rumah, kucing istrinya tersebut telah berada di sana. Fairus berusaha membuangnya lebih jauh lagi, lebih jauh lagi, tapi tetap saja si kucing bisa kembali ke rumah mendahului dirinya.
Suatu hari ia tidak saja membawa si kucing pergi jauh, tapi juga berputar-putar dulu. Fairus belok kanan, belok kiri, belok kanan, belok kanan lagi, berputar-putar sebelum akhirnya membuang kucing yang dibawanya.
Beberapa jam kemudian ia menelepon istrinya :
"Tik, kucingmu ada di rumah? " Tanya Fairus.
"Ada, kenapa? Tumben nanya di si Manis segala," jawab istrinya agak heran.
"Panggil dia Tik, aku mau tanya arah pulang. Aku kesasaar...! "
Oleh : Team Andriewongso.com
Ingin Tahu Kondisi Masa Depan? Ini Dia Ramalannya!
Ingin tahu bagaimana ramalannya? Inilah beberapa di antaranya:
Tahun 2010 diprediksikan menulis surat akan sudah sangat ketinggalan. Kegiatan korespondensi akan digantikan tempatnya dengan kehadiran komputer yang bisa dikenakan ke mana saja sehingga kegiatan menulis surat bukanlah tentang kertas dan pena, namun cukup mengetik di komputer pribadi. Untuk satu hal ini, tampaknya memang sudah mulai terlihat gejalanya belakangan ini.
Selanjutnya, pada tahun itu juga, digambarkan bahwa orang-orang tak akan lagi mempunyai rahasia pribadi, karena adanya sensor kebenaran yang bisa mengungkap apapun sisi terdalam seseorang yang dulunya disimpan rapat-rapat.
Lima tahun kemudian, ketika tahun 2015 menjelang, telepon rumah diramalkan akan sangat basi karena sudah ada ponsel sekali pakai. Untuk satu hal ini, memang sepertinya akan segera menjadi kenyataan, bahkan sebelum mencapai tahun tersebut.
Kemudian tahun 2025, digambarkan membayar tol tak ada lagi sehingga semua orang bisa bebas menggunakan jalan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun untuk melewati jalan bebas hambatan tersebut. Lalu kegiatan mengemudi akan semakin ramah lingkungan dengan didukung hadirnya tempat isi bahan bakar hidrogen. Lantas, masih pada tahun yang sama, menurutnya akan ada semacam 'pembasuh ingatan' yang bisa menghilangkan memori buruk selama di kantor.
Kemudian pada tahun 2035, Microsoft diramalkan tak lagi jadi primadona di dunia piranti lunak. Keberadaannya akan digeser dengan pendatang-pendatang baru. Lalu juga diramalkan akan hadir printer tiga dimensi sehingga bentuk yang dicetak semakin terlihat nyata.
Pertanyaan Yang Berkualitas Menghasilkan Jawaban Yang Berkualitas
Apapun yang kita tanyakan pada otak kita selalu ada jawabannya contohnya kalau kita selalu bertanya pertanyaan yang melemahkan seperti kenapa saya selalu gagal, kenapa saya selalu tidak bisa? Maka dalam sekejap otak kita akan memberikan jawaban yang melemahkan kita. Sebaliknya kalau kita bertanya pertanyaan yang lebih bermanfaat seperti apa yang menyebabkan kegagalan saya, pelajaran apa yang dapat saya pelajari dari kegagalan ini, apa yang akan saya lakukan agar saya bisa bangkit lagi? Secara otomatis otak kita akan memberikan solusi untuk masalah kita.
Selain cara bertanya diatas, ada satu frase yang sangat efektif untuk memecahkan masalah yang pelik yaitu Frase “What if” atau “Bagaimana kalau”? Frase” bagaimana kalau” sangat efektif untuk meningkatkan kemungkinan mendapatkan solusi karena dengan pertanyaan “Bagaimana Kalau” maka anda bisa menciptakan alternatif baru untuk solusi.
Contoh pertanyaan yang ditanya Wright Bersaudara ketika menciptakan pesawat terbang:
Apakah manusia bisa terbang?
Bagaimana kalau manusia bisa terbang?
Kalau bisa, Apa yang akan diperlukan supaya manusia bisa terbang?
Jawabnya : alat yang bisa terbang sepertinya sayap
Apakah mungkin diciptakan?
Kenapa tidak, memang belum ada yang bisa menciptakannya?
Bagaimana kalau bisa diciptakan?
Mesin apa yang dibutuhkan untuk menerbangkannya? dan lain-lain.
mengukir Reputasi Lebih Penting Dari Prestasi
Tidak sedikit orang mengejar suatu prestasi, entah itu prestasi akademis, prestasi kerja, atau prestasi diri dalam organisasi tertentu, namun tanpa disadari apa yang dia ciptakan telah menghancurkan reputasi diri (prestasi moral).
Pasca prestasi tumbuh kebencian, ketidak sukaan, penghianatan, kebohongan, kesombongan dan sakit hati yang berakhir dengan dendam.
Namun apabila kita mengukir reputasi diri, mengedepankan sebuah moralitas, membangun benci menjadi suka, tidak berhianat akan menuai kebaikan diakhir perjuangan.
Prestasi fisik dan akademis tidak menjadi ukuran, namun mengedepankan moral akan menumbuhkan kasih sayang, sesungguhnya reputasi seseorang ada pada moral bukan pada prestasi akademis atau prestasi fisik.
Piala dan piagam penghargaan, tanda jasa tidak berarti apa-apa, demikian pula ijazah apabila kita tidak pernah mengedepankan moral.
Berijazah tapi tak bermoral, prestasi kerja dan akadenis menjadi tujuan akhir, pangkat dan kedudukan menjadi cita-cita dan uang sebagai bukti keberhasilan, itu semua sesungguhnya hanya mengumpulkan kehancuran, apabila reputasi diri (moral) tidak ada dalam target seseorang.
Meraih prestasi diri tanpa mengedepankan moral sesungguhnya kita melatih diri egois, sombong, tidak perduli orang lain dan lingkungan serta ingin menang sendiri.
Raihlah reputasi dalam mengukir prestasi
Tuesday, December 23, 2008
Kata - kata Motivasi
Kata -kata Motivasi oleh Ilmuwan
Orang yang bercita-cita tinggi adalah orang yang menganggap teguran keras baginya lebih lembut daripada sanjungan merdu seorang penjilat yang berlebih-lebihan.
- Thales -
Setelah menua, Thales ditanya tentang keadaannya. Dia menjawab, “Beginilah, aku mati secara perlahan-lahan.”
Derajat kebaikan seorang hamba yang paling tinggi adalah yang hatinya dapat terpuaskan oleh Tuannya Yang Mahabenar sehingga dia tidak membutuhkan perantara antara dirinya dengan Tuannya itu.
- Pythagoras -
Pythagoras mengundang teman-temannya untuk makan, tetapi ternyata pembantunya melalaikan perintahnya dan tidak menyiapkan makanan. Saat teman-temannya datang, dia tidak panik, malah tertawa. Dia berkata, “Hari ini telah kita dapatkan hal-hal yang lebih mulia daripada alasan pertemuan kita ini, yaitu menahan kemurkaan, menguasai kemarahan, menggenggam kesabaran, dan menghiasi diri dengan kelembutan.”
Wahai anak muda, jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, engkau harus menanggung pahitnya kebodohan.
- Pythagoras -
Janganlah sekali-sekali engkau mempercayai kasih sayang yang datang tiba-tiba, karena dia akan meninggalkanmu dengan tiba-tiba juga.
- Pythagoras -
Pilih olehmu menjadi pihak yang kalah tapi benar. Dan janganlah sekali-sekali engkau menjadi pemenang tetapi zalim.
- Pythagoras -
Jangan membanggakan apa yang telah engkau lakukan hari ini, sebab engkau tidak akan tahu apa yang akan diberikan hari esok.
- Pythagoras -
Sokrates dicela karena makan terlalu sedikit, maka dia menjawab,”Aku makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan.”
Diceritakan kepada Sokrates, “Penduduk kota menertawaimu.” Dia menjawab, “Semoga tawa mereka itu semakin menyempurnakan diriku.”
Ada seorang raja yang berkata kepada Sokrates,”Apa yang membuatmu tidak mau menghadapku padahal engkau adalah budakku?” Sokrates menjawab,”Jika engkau jujur kepada dirimu, engkau pasti mengerti bahwa aku bukanlah budakmu.” Raja bertanya, “Bagaimana bisa begitu?” Sokrates menjawab, “Pernahkah engkau mengetahui bahwa diriku melakukan sesuatu atas dasar dorongan nafsu dan marah?” Raja menjawab, “Tidak.” Sokrates bertanya lagi, “Pernahkah engkau begitu?” Raja itu menjawab, “Pernah.” Sokrates berkata, “Saya menguasai nafsu dan marah, sementara keduanya menguasaimu. Jadi engkau adalah Budak dari budakku.”
Lalat mencari dan menempel pada tempat-tempat kotor dan menjauhi tempat-tempat yang sehat. Begitu juga orang-orang yang jahat. Mereka mencari kejelekan-kejelekan orang lain lalu menyebarkannya dan menyembunyikan kebaikan-kebaikan orang lain dan tidak mau menyebutkannya.
- Sokrates -
Lidah yang menyebut Allah tidak pantas dipakai untuk menyebut kata-kata nista.
- Sokrates -
Malapetaka menimpa binatang selain manusia karena mereka tidak dapat berbicara, dan menimpa manusia karena mereka terlalu banyak berbicara.
- Sokrates -
Bertutur-katalah yang baik atau lebih baik diam.
- Muhammad (salla-Allahu’alayhi was salaam) -
Jika engkau menginginkan kebaikan, segeralah laksanakan sebelum engkau mampu. Tetapi jika engkau menginginkan kejelekan, segeralah hardik jiwamu karena telah menginginkannya.
- Sokrates -
Siapa orang yang paling rendah derajatnya? Sokrates menjawab, “Orang yang tidak percaya pada siapa pun dan tidak dipercaya oleh siapa pun.” Dan siapakah orang yang paling nista? Sokrates menjawab,”Orang yang dimintai maaf tapi tidak mau memaafkan.”
Jika orang yang tidak tahu tidak berbicara, maka perselisihan pasti hilang.
- Sokrates -
Kesejahteraan memberikan peringatan, bencana memberikan nasihat.
- Sokrates -
Mengapa engkau tidak mengkhwatirkan matamu yang terlalu banyak membaca? Sokrates menjawab,”Jika aku dapat menyelamatkan mata hatiku, maka aku tidak akan mempedulikan sakit mataku.”
Sokrates melihat seseorang sedang memukuli pembantunya dengan penuh kemarahan. Sokrates bertanya pada orang itu,”Mengapa engkau memukulinya? Orang itu menjawab,”Dia telah melakukan kesalahan yang sangat besar.” Sokrates berkata, “Jika semua orang yang telah engkau perlakukan dengan salah engkau ijinkan untuk menghukum dirimu, pasti engkau akan segera meninggalkan kezaliman ini.”
Orang yang takjub kepada dirinya sendiri, dia melihat di dalam dirinya sesuatu yang lebih indah dari kenyataannya -walaupun sebenarnya dia sangat lemah lalu dia bergembira karenanya.
- Sokrates -